The Curse of The Weeping Woman: Wewe Gombel versi Hollywood?




Pada menit ke 48.07, gue yakin film The Curse of The Weeping Woman ini merupakan plagiat dari Wewe Gombel versi Hollywood! Stop plagiarisme!

the-curse-of-the-weeping-woman-movie-review

Untuk orang Meksiko, hantu La Llorona mungkin udah kaya Wewe Gombel sono ya. Itu, hantu yang suka nyulik anak kecil. Bedanya, kalau Wewe Gombel kan nyulik anak kecilnya pas Maghrib.

Nah, kalau La Llorona itu nyulik anak-anak kecil yang gak nurut sama orang tuanya (terutama ibu). Dan gak cuma pas Maghrib ye, siang juga bisa tuh si La Llorona.

Berjudul asli The Curse of La Llorona, film ini berubah titelnya begitu masuk di Indonesia. Kenapa? Ya karena siape yang tau La Llorona? Kurang tenar di sini cui! Kalah pamor sama Mbak Kunti, Poci, Genderuwo, Tuyul, dan Wewe Gombel.

Produser dan Distributor Hacep

Gue salah satu penggemar James Wan. Tambah lagi disokong nama besar Warner Bross, gue yakin ini film bakal meledak kaya The Conjuring, Insidious, Anabelle, Valak, dkk di dunia. Gak tau kalau di Indonesia (?).

Kecintaan gue sama film Horor karya James Wan adalah karena Jumpscare yang dia buat itu gak murahan. Gak kentang alias kena tanggung. Setiap jumpscare itu kaya: “nih gue kagetin, ini setan, noh mamam!”, gitu.

Dan paling kesel gue sempet teriak kaya orang gila pas nonton film The Conjuring di Pejaten sama anak-anak kantor kala itu. Babik.

Selain itu, film-film James Wan itu punya ciri yang gue suka dari sebuah kisah: keluarga. Jadi semua orang “can relate” to their movies (anak jaksel, pake Enggres!).

Dia story teller yang baik. Kisahnya selalu ada awal-tengah-klimaks-akhir. Itu yang jarang ditemukan sama film-film Indonesia terutama film horor.

Tak terkecuali The Curse of The Weeping Woman, story building-nya apik!

Cerita The Curse of The Weeping Woman – Spoiler Alert!

Babak Pertama

Cerita di mulai ketika Anna, sang pemeran utama, yang sedang menangani kasus Patricia. Kedua anaknya, Diego dan Carlos, dituding mengalami kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh ibunya sendiri, yaitu Patricia.

Jadi si Anna ini adalah seorang karyawan Dinas Sosial pada Departemen Kesejahteraan Untuk Anak. Kalau di Indonesia Komisi Perlindungan Anak, semacem Kak Seto gitu ya.

Tempo cukup cepat, khas James Wan banget deh kalau kalian ikutin film-film hororya. Bagian awal ini juga gak bertele-tele. Selalu dikasih clue-clue yang memiliki keterikatan pada babak berikutnya.

Diego dan Carlos mati tenggelam (ditenggelamkan) di sungai ketika bermalam di penampungan anak Dinas Sosial. Anna dituduh oleh Patricia sebagai penyebabnya. Hayoloh Anna!

Scene Diego dan Carlos ketika di penampungan anak ini gak terlalu vulgar sih horornya. Si La LLorona muncul, ngintip-ngintip lah. Sekali lagi, keciri banget karya si James Wan. Dia pengen nampilinnya dikit-dikit dulu. Biar bikin penasaran dan greget. James Wan mah gitu ikh!

Babak Kedua

Kini giliran Chris dan Samantha, putra dan putri Anna yang diteror oleh La Llorona. Silih berganti, hantu Mexico ini melenggang di USA dan mendatangi kedua anak dari Anna.

Ini butt hole sih. Eh, maksudnya plot hole. Masa iya hantu, folklore, dongeng, urband legend dari Mexico bisa ujug-ujug dateng ke USA? Maksudnya apa? Offended sama Go Internasional si Agnez Mo? Seumur-umur gue gak pernah denger Mbak Kunti atau Poci ada di Singapore!

Ada luka di tangan Chris dan Samantha, bekas dipegang sama La Llorona. Kejadian ini sama halnya yang dialami oleh anak Patricia sebelum mati tenggelam di sungai. Nah loh!

Babak Ketiga

Babak ketiga ya gitu lah. Gue cekikikan karena penonton saat itu kaya nenek-nenek yang lagi nonton film India tau gak lu? Banyak bacod. “Eh itu.. hantunya di belakang”, pada kaya gitu dalem studio. Berisik bangsad!

La Llorona neror makin jadi. Butt hole lagi nih, si La LLorona itu kayanya ada jeda waktu dari dia nandain anak pake luka di tangan (untung bukan luka di hati), sampe anak itu dia bunuh. Cuma gak diceritain bahkan ketika kilas balik menceritakan asal mula huntu La LLorona itu eksis.

Plot Twist: Dinas Sosial Kesejahteraan Anak mendatangi rumah Anna. Hal ini karena si Chris jatuh dari tangga, dan Anna dituding yang melakukan semua kekerasan ini kepada anak-anaknya.

Klimaks

Sejatinya Anna bukan orang yang relijius, tapi karena teror-teror huntu ini tidak wajar dan mulai kurang ajar, Anna mendatangi pastor. Sayangnya, seperti film-film besutan James Wan lainnya, ada proses yang harus dilalui agar pihak gereja bisa membantu Anna. Seminggu lamanya.

Gak bisa diam diri, Anna cari solusi agar anak-anaknya selamat dari ancaman huntu La Llorona. Bertemulah dia dengan Raffael, seorang mantan pendeta yang kini menjadi ahli supranatural kaya Sara Wijayanto. Anjir.

Penutup

Ini review film udah kaya karya ilmiah, segala ada penutup.

Pokoknya bagi kalian pecinta Horor, ini sih oke. Jump Scare, oke. Bikin merinding? Relatif sih. Kalau gue gigitin jaket aja selama nonton. Ngeri teriak lagi kaya film The Conjuring. Sinematografi? Oke banget. Sound Effect? Oke. Ada part yang bikin bangku geter gitu. Plot? lumayan lah. Alur? Oke banget. Setting? Mantap. Mendukung sekali.

Moral Story? Gue gak demen ngasih moral story.

Jadi

Jadi, siapa pelaku yang menenggelamkan anak Patricia yaitu Diego dan Carlos ketika berada dalam penampungan anak Dinas Sosial Kesejahteraan Anak?

Mengapa La Llorona tiba-tiba meneror anak-anak dari Anna? Apa penyebabnya?

Apakah anak-anak Anna, Chris dan Samantha akan berhasil lolos dan selamat dari teror hantu La Llorona?

Siapa sebenarnya La Llorona? Mengapa dia meneror dan membunuh anak-anak?

Nonton lah!

movie-review-the-curse-of-the-weeping-woman

Similar Posts:

    None Found

Another Song You Like

Latest Posts







You may also like...




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *